Waktu mondok dulu ada satu cerita yang jarang Saya lupa, yang diceritakan oleh salah satu pembina. Ceritanya begini, ada dua orang, anggaplah si A dan si B.
Keduanya sama-sama mendapat tugas mengagkat air dari tempat yang sangat jauh dengan alat seadanya.
Keduanya, baik si A dan si B sama-sama melaksanakan tugas yang diperintahkan dengan penuh semangat. Tugas itu menjadi rutinitas hari-harinya yang harus keduanya kerjakan.
Pada satu waktu, Baik si A dan si B sama-sama sudah capek dan baik tangan maupun punggungnya sudah cedera karena tugas mengangkat air itu.
Kendati begitu pikiran si A ini adalah perintah yang harus Saya kerjakan. Secedera apapun, harus tetap mengangkat Air.
Tapi si B, punya pikiran atau inisiatif sembari tetap mengangkat air, dalam perjalanan Ia terus berdiskusi dengan dirinya, bagaimana caranya agar supaya Air ini bisa berada di tempat yang diperintahkan tapi tanpa harus Saya mengangkat Air.
Dengan pikiran itu, Ia cukup terobsesi bisa mewujudkannya walaupun belum ketemu jalurnya. Tapi pikirannya sudah ada.
Berbeda dengan si A. Ia tetap dengan pekerjaannya tanpa ada pikiran sama sekali ke sana, intinya ini tugas yah harus Saya kerjakan.
Bertahun-tahun pekerjaan itu dilakoni, si A mulai sangat kewalahan. Kodisi fisik mulai menunjukan tanda-tanda ketidak sanggupannya.
Sedangkan si B semakin hari hayalan dia tentang alat itu, sudah mulai menampakkan wujudnya.
Ia mulai menciptakan penemuan baru berupa Pipa Air yang bisa digunakan memindahkan air dari yang jauh itu ketempat yang lebih dekat. Sehingga, tidak harus lagi menggunakan cara kerja keras agar air itu sampai ditempat yang diiginkan.
Mungkin cerita ini mengantarkan Kita pada satu kesimpulan bahwa ada “Realitas yang harus kita jalani, tapi jangan lupa menghadirkan ide-ide yang inovatif yang mendukung laju realitas itu”
Si A memang pekerja keras, tapi si B adalah pekerja Cerdas. Jangan ragu untuk menghadirkan hal-hal baru dalam melakoni kerja-kerja realitas.
Comments
Post a Comment