Skip to main content

Realitas dan Idealistas

Waktu mondok dulu ada satu cerita yang jarang Saya lupa, yang diceritakan oleh salah satu pembina. Ceritanya begini, ada dua orang, anggaplah si A dan si B. 

Keduanya sama-sama mendapat tugas mengagkat air dari tempat yang sangat jauh dengan alat seadanya.

Keduanya, baik si A dan si B sama-sama melaksanakan tugas yang diperintahkan dengan penuh semangat. Tugas itu menjadi rutinitas hari-harinya yang harus keduanya kerjakan.

Pada satu waktu, Baik si A dan si B sama-sama sudah capek dan baik tangan maupun punggungnya sudah cedera karena tugas mengangkat air itu.

Kendati begitu pikiran si A ini adalah perintah yang harus Saya kerjakan. Secedera apapun, harus tetap mengangkat Air.

Tapi si B, punya pikiran atau inisiatif sembari tetap mengangkat air, dalam perjalanan Ia terus berdiskusi dengan dirinya, bagaimana caranya agar supaya Air ini bisa berada di tempat yang diperintahkan tapi tanpa harus Saya mengangkat Air.

Dengan pikiran itu, Ia cukup terobsesi bisa mewujudkannya walaupun belum ketemu jalurnya. Tapi pikirannya sudah ada.

Berbeda dengan si A. Ia tetap dengan pekerjaannya tanpa ada pikiran sama sekali ke sana, intinya ini tugas yah harus Saya kerjakan.

Bertahun-tahun pekerjaan itu dilakoni, si A mulai sangat kewalahan. Kodisi fisik mulai menunjukan tanda-tanda ketidak sanggupannya.

Sedangkan si B semakin hari hayalan dia tentang alat itu, sudah mulai menampakkan wujudnya.

Ia mulai menciptakan penemuan baru berupa Pipa Air yang bisa digunakan memindahkan air dari yang jauh itu ketempat yang lebih dekat. Sehingga, tidak harus lagi menggunakan cara kerja keras agar air itu sampai ditempat yang diiginkan.

Mungkin cerita ini mengantarkan Kita pada satu kesimpulan bahwa ada “Realitas yang harus kita jalani, tapi jangan lupa menghadirkan ide-ide yang inovatif yang mendukung laju realitas itu”

Si A memang pekerja keras, tapi si B adalah pekerja Cerdas. Jangan ragu untuk menghadirkan hal-hal baru dalam melakoni kerja-kerja realitas.

Comments

Popular posts from this blog

Nahnu Duat Qabla Kulli Syai’

  Nahnu Duat Qabla Kulli Syai’ Bagi anak Komunikasi dan Penyiaran Islam kalimat Nahnu Duat Qabla Kulli Syai’ sudah sering kali didengarkan alias sudah menjadi sarapan setiap waktu. Kalimat ini ampuh membangun semangat atau tasyji’ dalam setiap menjalankan amanah dakwah di daerah-daerah tempat tugas. Lalu, apakah arti dari kalimat tersebut? Nahnu Du’aat Qabla Kulli Syai’ ialah Kami Dai sebelum sebagai yang lainnya. Artinya, sebagai apa dan menjadi apapun mereka saat ini atau kelak himmah dakwahnya tetap menyatu dalam pribadinya. Ia boleh menjadi pejabat negara, pegawai pemerintahan, pegawai swasta, direktur perusahaan, menjadi atasan atau bahkan menjadi bawahan, semangat dalam mengajak kepada kebaikan terus Ia tularkan kepada siapa pun. Dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai Dai, Ia bukan hanya dituntut mengunggulkan sisi retorikanya saja dalam hal ini kemampuan dia dalam berbicara, mengusai panggung semata, memikat Ketika sedang berceramah tapi hal yang lain yang tid...

Delapan Pesan Inspiratif Syekh Arafat Al Majidi Hafizahullah

Delapan Pesan Inspiratif Syekh Arafat Al Majidi 1. Sunnah kehidupan adalah selalu berubah-ubah. Hari ini Anda berada di lembaga A, ke depan bisa jadi pindah ke lembaga B. 2. Maksimalkan setiap kesempatan untuk belajar mencari pengalaman dari hal yang paling kecil hingga yang paling besar. Carilah pengalaman sebanyak-banyaknya. Jangan puas denga hanya satu pengetahuan. 3. Ketika bekerja dalam sebuah lembaga pahamilah bahwa Anda tidak lama bekerja di situ, apa yang diberikan berupa gaji, pastikan itu akan cepat habis. Yang tidak akan hilang adalah pengalaman dalam bekerja. Ketemu dengan tim, maka buatlah kesan yang baik, etos kerja yang baik. Ketika Anda dikenal punya etos kerja yang baik, orang yang mengenalmu akan merekomendasikanmu jika sewaktu-waktu ada orang yang membutuhkan. Saling bertukar kontak dan perkuat silaturahim.  4.  Jangan jadikan Dakwah sebagai Profesi, Dakwah adalah risalah dari Allah subhanahu wataaala. Sebagaimana para ulama-ulama terdahulu, sela...

Jenis-Jenis Komunikasi Dakwah Menurut Al Quran

  Jenis-Jenis Komunikasi Dakwah Menurut Al Quran   Sebelum Kita membahas jenis-jenis Komunikasi Dakwah di dalam al Qur’an, Yuk kita kenali dulu apa itu Komunikasi Dakwah? Komunikasi Dakwah Komunikasi artinya suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak ke pihak yang lain baik secara verbal maupun non verbal. Sedangkan pengertian dakwah adalah panggilan, seruan, atau ajakan yang asal katanya (masdar) dari Bahasa Arab da’a-yad’u. Adapun secara istilah ialah ajakan kepada jalan Allah swt. sesuai dengan akidah, syariah, dan ahlak karimah.   Di dalam al-Qur’an terdapat jenis-jenis perkataan atau komunikasi yang digunakan. Apa saja itu? 1. Perkataan yang Baik (Qaulan Ma’rufa) Qaulan Ma’rufa   artinya perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun yang tidak menyakiti atau menyinggung perasaan. Selain itu, qaulan ma’rufa adalah perkataan yang penuh dengan manfaat, sehingga menghasilkan kebaikan.   ﴿ وَلَا تُؤْتُوا السُّ...